Senin, 01 April 2019

CEKUNGAN FORMASI SEDIMEN ASEM-ASEM, KALIMANTAN SELATAN



CEKUNGAN FORMASI SEDIMEN ASEM-ASEM, KALIMANTAN SELATAN

Cekungan Asem-asem adalah salah satu cekungan Tersier di Indonesia yang mempunyai potensi sumber daya energi cukup besar, seperti minyak dan gas bumi serta batubara. Cekungan Asem-asem berlokasi di tenggara dari Kerak Benua Sundaland dan dipisahkan Cekungan Barito oleh Pegunungan Meratus di bagian Barat. Cekungan Asem-Asem terletak pada bagian Tenggara dari batas lempeng benua Sundaland. Cekungan ini terpisahkan dari Cekungan Barito oleh Pegunungan Meratus di sebelah Baratnya.

Peta Lokasi Cekungan Asem-Asem (Rasoul Sorkhobi, 2012)

Cekungan Asem-Asem terletak di Kalimantan Selatan dan di sebelah Timur dari sayap Pegunungan Meratus. Bagian sayap timur yang wilayahnya mencakup wilayah lepas pantai diperkirakan memiliki batugamping Oligosen Atas sampai Miosen Bawah terutama di atas basement. Ke Utara, cekungan ini terpisahkan dengan Cekungan Kutai dengan adanya Adang Flexure atau sesar yang memisahkan Barito dengan Kutai. Ke arah Selatan, memanjang ke arah Laut Jawa hingga Tinggian Florence. Cekungan ini berbentuk asimetris dengan bagian depan di zona frontal dari Pegunungan Meratus dan paparan ke arah kraton Sundaland.

Peta geologi regional Kalimantan


Fisiografi
Pulau Kalimantan umumnya merupakan daerah rawa-rawa dan fluvial. Selain itu juga terdapat daerah dataran dan pegunungan yang tersebar di pulau ini. Dataran yang ada tersebar di bagian tepi-tepi pulau dan sebagian besar daerah pegunungan berada di tengah pulau. Pada bagian utara Pulau Kalimantan merupakan zona Pegungungan Kinibalu dna pada bagian Baratlaut terdapat jajaran Pegunungan Muller dan Pegunungan Schwaner. Pada bagian selatan terdapat Pegunungan Meratus.

Fisiografi Pulau Kalimantan, tanpa skala (Bachtiar, 2005).

Van Bemmelen (1949) membagi bagian barat Pulau Kalimantan menjadi dua bagian, yaitu:
  • Pegunungan Kapuas Atas, berada di antara Lembah Rejang di bagian utara,Cekungan Kapuas Atas dan Lembah Batang Lupar di bagian selatan.
  • Madi Plateu, berada di antara Cekungan Kapuas Atas dan Sungai Melawi.

Sedangkan pada bagian Timur Kalimantan, Van Bemmelen (1949) juga membagi daerah ini menjadi dua bagian, yaitu:
  • Rangkaian pegunungan di Kalimantan bagian Utara, berakhir di Semenanjung Teluk Darvel.
  • Rangkaian pengunungan lainnya, berakhir di Semenanjung Mangkalihat.

Di Pulau Kalimantan Selatan sendiri memiliki beberapa sungai besar, di antaranya Sungai Kapuas, Sungai Barito, Sungai Negara dan Sungai Kahayan. Sungai Barito merupakan sungai terbesar kedua di Pulau Kalimantan. Sungai Barito ini berhulu di Pegunungan Muller dan menghasilkan Cekungan Barito yang dibatasi oleh Pegunungan Meratus pada bagian timur. Sungai-sungai di daerah Kalimantan Selatan ini berhulu di bagian tengah Pulau Kalimantan yaitu Pegunungan Schwaner dan juga Pegunungan Muller. Pegunungan Schwaner dan Muller ini memiliki ketinggian antara 200-2000 meter di atas permukaan laut. Sedangkan arah aliran sungai-sungai ini relative berarah utara-selatan dan bermuara di Laut Jawa. Sungai-sungai ini mengalir pada ketinggian 0-200 meter di atas permukaan laut. Daerah aliran sungai-sungai besar ini menempati sebagian besar dari bagian Selatan Pulau Kalimantan. Di bagian timur Provinsi Kalimantan Selatan terdapat Pegunungan Kompleks Meratus yang merupakan jejak adanya kegiatan subduksi pada umur Kapur (Rotinsulu dkk., 2006).

Stratigrafi
Cekungan yang terdapat di Kalimantan Selatan yaitu Cekungan Barito dan Cekungan Asem-asem yang secara umum memiliki ciri-ciri susunan stratigrafi dari tua ke muda yang relatif sama. Cekungan Barito dan Cekungan Asem-asem ini dipisahkan oleh Pegunungan Meratus. Pada bagian utara berbatasan dengan Cekungan Kutai  yang dipisahkan oleh Sesar Andang. Sedangkan pada bagian barat dibatasi oleh Paparan Sunda. Pada mulanya Cekungan Barito dan Cekungan Asem-asem merupakan satu cekungan yang sama, hingga pada Miosen Awal terjadi pengangkatan Pegunungan Meratus yang menyebabkan terpisahnya kedua cekungan tersebut (Satyana, 1995).

Stratigrafi daerah Kalimantan Selatan meliputi beberapa formasi, yaitu basement berupa Batuan Malihan, Formasi Tanjung, Formasi Berai, Formasi Warukin, dan Formasi Dahor serta Endapan Aluvial. Formasi-formasi ini berumur Eosen sampai Pliosen.

Batuan alas (basement) yang berupa batuan malihan tingkat tinggi yang terdiri atas sekis amfibolit dan malihan tingkat rendah yang terdiri atas filit. Sikumbang (1986) memperkenalkan batuan malihan tingkat tinggi ini sebagai Sekis Hauran yang tersusun oleh sekis hijau yang mengandung mineral kuarsa, muskovit, biotit, hornblenda, epidot dan malihan tingkat rendah sebagai Filit Pelaihari yang terdiri atas filit yang mengandung mineral klorit dan mika pada bidang permukaan yang mengkilap dan batusabak. Batuan malihan ini memiliki umur Jura.

Formasi Tanjung pertama kali diperkenalkan oleh Pertamina (1980; dalam Supriatna dkk., 1981) untuk formasi batuan Tersier tertua di lapangan minyak Tanjung. Formasi Tanjung yang tersusun oleh perselingan batupasir kasar, batupasir konglomeratan dan konglomerat di bagian bawah, batulempung berwarna kelabu di bagian tengah dan perselingan tipis batulanau dan batupasir halus di bagian atas yang memiliki lingkungan pengendapan sungai atau fluvial dan berumur Eosen Akhir (Martini, 1971). Pada bagian atas formasi ini terdapat batuan karbonat yang merupakan awal dari terbentuknya Formasi Berai.

Formasi Berai diendapkan secara selaras di atas Formasi Tanjung, tetapi pada beberapa bagian terdapat hubungan yang menunjukkan adanya ketidakselarasan. Tetapi secara umum formasi ini diendapkan selaras di atas Formasi Tanjung. Formasi Berai yang didominasi oleh batugamping ini memiliki lingkungan pengendapan  terumbu depan, mungkin antara terumbu belakang, sublitoral pinggir, relatif dangkal, mungkin kurang dari 30 meter, berupa laut dangkal atau lagoon yang berumur Oligosen Akhir – Miosen Awal (Te1-5 Adams, 1970).

Formasi Warukin digunakan pertama kali oleh Pertamina (1980; dalam Supriatna dkk., 1981) dan lokasi tipenya terdapat di daerah Kambilin, Balikpapan,Kalimantan Timur. Secara selaras Formasi Warukin diendapkan di atas Formasi Berai yang tersusun oleh batulempung warna kelabu, sisipan batupasir dan batubara. Bagian bawah dari runtunan batuan ini terdiri atas dominasi batulempung warna kelabu sampai kehitaman dengan sisipan batupasir hasul-sedang dengan struktur sedimen paralel laminasi dari material karbon, flaser dan burrow. Formasi ini diendapkan pada lingkungan pengendapan rawa dan pasang surut yang berumur Miosen Awal –
Miosen Akhir.

Formasi Dahor diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Warukin. Formasi Dahor tersusun oleh batulempung sampai batulempung pasiran, batupasir kasar – konglomeratan yang berstruktur sedimen butiran bersusun (gradded bedding), batupasir kemerahan yang berstruktu sedimen laminasi sejajar dan silangsiur serta konglomerat yang memiliki komponen batuan granit, malihan, sedimen dan vulkanik dengan ukuran 5-15 cm.

Formasi Dahor memiliki lingkungan pengendapan delta dan berumur Plio-Plistosen. Endapan Aluvial pada Cekungan Asem-asem merupaka hasil dari proses sungai (fluviatil) yang terdiri dari endapan lumpur, pasir, kerikil, kerakal dan bongkah yang berumur Kuarter.


Stratigrafi regional daerah Asem-asem

Struktur Geologi
Struktur geologi yang terdapat di Kalimantan Selatan adalah antiklin, sinklin, sesar naik, sesar mendatar, dan sesar turun. Sumbu lipatan umumnya berarah timurlaut-baratdaya dan umumnya sejajar dengan arah sesar normal. Di Kalimantan Selatan terdapat dua cekungan besar, yaitu Cekungan Barito dan Cekungan Asem-asem. Dua cekungan ini dibatasi oleh Pegunungan Meratus yang melintang dari utara- baratdaya. Cekungan Barito dan Cekungan Kutai ini dipisahkan oleh sebuah sesar yang berarah timur-barat di bagian utara dari Provinsi Kalimantan Selatan, sesar ini dikenal dengan nama Sesar Adang (Mudjiono dan Pireno, 2006).


Struktur geologi regional Cekungan Asem-asem

Regim struktur yang terjadi di Cekungan Barito adalah regim transpression dan transtension. Struktur yang didapati adalah lipatan yang berarah utara timurlaut-selatan baratdaya (NNE-SSW) pada bagian utara cekungan. Sedangkanpada Pegunungan Meratus terdapat sesar-sesar yang membawa basement. Sesar–sesar ini ditandai dengan adanya drag atau fault bend fold dan sesar naik. Sedangkan lipatan-lipatan yang terdapat di Pegunungan Meratus yaitu di  bagian utara pegunungan ini berarah utara timurlaut-selatan baratdaya (NNE- SSW) dan yang berada di bagian selatan berarah utara-selatan. Lipatan yang banyak ditemui berupa antiklin dan beberapa sinklin. Sesar-sesar naik banyak terdapat pada daerah Pegunungan Meratus dengan arah umum utara timurlaut-selatan baratdaya (NNE-SSW). Sesar-sesar mendatar juga banyak ditemui di Pegunungan Meratus ini, umunya tidak terlalu panjang, berbeda dengan sesar naik yang memiliki kemenerusan yang pajang. Sesar-sesar mendatar umumnya berupa sesar mengiri dan berarah baratlaut-tenggara (Satyana, 2000).

Studi dari data geofisika menunjukkan bahwa antiklinorium Meratus – Samarinda diperkirakan mempunyai kemiringan sumbu berarah umum utara dan secara regional terindikasi berdasarkan jurus batuan bahwa zona patahan secara umum dapat dibagi menjadi tiga blok yaitu blok utara, tengah dan selatan. Blok utara telah mengalami pengangkatan pada sayap sebelah barat anticlinorium di sepanjang utara  zona sesar dan disebut sebagai zona sesar Tanjung. Blok tengah terletak antara zona sesar Tanjung dan zona sesar Klumpang yang dicirikan oleh munculnya batuan terobosan granitik dan ultrabasa sepanjang zona sesar. Sedangkan blok selatan dicirikan oleh luasnya perkembangan sesar berarah timur laut yang erat kaitannya dengan komplek batuan terobosan diorit dan ultrabasa. Sejumlah sesar berarah tenggara - barat laut yang berasosiasi dengan endapan magnetit di wilayah Pleihari dan dapat diamati dari munculnya perpotongan sistem sesar dari semua blok diatas.

Referensi:

0 komentar:

Posting Komentar