Senin, 01 April 2019

CEKUNGAN FORMASI SEDIMEN AKIMEUGAH PAPUA


CEKUNGAN FORMASI SEDIMEN AKIMEUGAH PAPUA

Cekungan Akimeugah terletak di utara basement high (Merauke Ridge) Papua bagian selatan yang memisahkannya dari Cekungan Arafura ke selatan. Cekungan ini Dilihat dari asosiasinya dengan cekungan disekitarnya, cekungan akimeugah berasosiasi dengan cekungan – cekungan yang telah berproduksi hidrokatbondiantaranya Cekungan Papua dan cekungan – cekungan Australia. Dari penelusuran berbagai jurnal dan atikel, literature geokimia akan memberikan gambaran terkait batuan induk aktif yang ada di daerah tersebut.


Peta indeks Cekungan Akimeugah dan Sahul berdasarkan Peta Cekungan Sedimen Indonesia (Badan Geologi, 2009).

Cekungan Akimeugah bermula sebagai cekungan passive margin, yakni cekungan yang terbentuk oleh rifting di tepi utara benua Australia pada saat tepian ini, mengalami peretakan akibat sebagian massa dibagian utaranya mau lepas dan bergerak dari Australia. Dalam retakan ini terbentuk horst dan graben yang di dalam grabennya diendapkan sedimen synrifting Paleozoikum dan Mesozoikum. Kemudian, saat bagian ini lepas dan menjauh dari Australia (drifting) diendapkanlah sedimen syn drifting yang umumnya berupa shale atau batugamping, kejadian ini terjadi sampai Paleogen.
 
Peta tektonik dan penampang cekungan foreland

Penampang cekungan foreland Kawasan Indonesia timur

Pada umur Neogen, Akimeugah berbenturan dengan Central Range of Papua (Punggung Papua). Sejak itulah Akimeugah bertipe foreland basin. Passive margin Paleozoikum-Neogen ditekuk masuk ke bawah jalur Banda dan Central Range. Kemudian di bagian depan tekukan itu (foredeep) diendapkan sedimen bersifat molassic yang merupakan erosional products dari tinggian di dekatnya.Penekukan dan penguburan oleh sedimen molase bagian foredeep passive margin Akimeugah telah mematangkan batuan induk Paleozoik, Mesozoik, atau Paleogen di dalam graben kemudian migrasi hidrokarbonnya akan bergerak membalik dari foredeep ke forebulge-nya (bagian ke arah updip dari passive margin yang tak ikut tertekuk seperti foredeep) secara lateral, atau bergerak vertikal menuju zone deformasi imbrikasi di wilayah benturan. Kontrol utama cekungan Akimeugah adalah rifting dan drifting pada Paleozoikum Mesozoikum-Paleogen, dan collision pada Neogen (Awang Satyana, pada Agus sabarnas 2011)
 
Streatgrafi Cekungan Akimeugah

Cekungan Akimeugah terdiri dari endapan pre – kambrian – tersier. Batuan dasar terdiri dari Batuan Gabro berumur pra-kambrian dan Batuan Metamorf. Diikuti oleh pengendapan formasi Dolomit Modio berumur Permian dan Formasi Aiduna yang diendapkan secara tidak selaras. Kemudian secara selaras diendapkan diatasnya formasi-formasi klastik Mesozoikum (Formasi Tipuma, Kopai, Woniwogi, Piniya dan Ekmai), serta beberapa perlapisan karbonat secara lokal. Diatas Formasi Ekmai, ditindih oleh klastik dan batugamping berumur Paleosen – Miosen (Waripi, Lower Yawee, Anggota Adi, dan Upper Yawee) secara tidak selaras. Pengendapan terakhir adalah batulempung marin berumur Miosen akhir hingga Plio-Pleistosen dan karbonat lokal yang terendapkan tidak selaras, yaitu Formasi Buru.

Sistem petroleum yang bekerja pada Cekungan Akimeugah terdapat pada Grup Kembelangan yang berumur Mesozoikum. Grup Kembelangan terdiri atas empat formasi, yaitu: Formasi Kopai, Formasi Woniwogi, Formasi Piniya, dan Formasi Ekmai. Formasi Kopai merupakan batuan sumber dengan tipe kerogen II dan III, Ro lebih besar dari 0.6 %, dan TOC berkisar antara 1 – 10 % pada Paparan Sahul. Formasi Woniwogi merupakan batuan reservoir dengan porositas berkisar antara 12 – 14 % dengan permeabilitas antara 200 – 500 mD (Meizarwin, 2003). Formasi Piniya merupakan batuan tudung yang tersusun oleh batulempung dengan ketebalan mencapai 900 meter (Panggabean dan Hakim, 1986). Formasi Ekmai merupakan batuan reservoir pada Lapangan Bayu – Undan, akan tetapi pada Cekungan Akimeugah batuan ini bukan merupakan batuan reservoir yang bagus.

Australia dan Papua New Guinea telah memproduksikan minyak dan gas bumi dari sistem cekungan yang sama yaitu cekungan foreland, batuan reservoir yang sama yaitu batupasir yang berumur Jura Tengah – Kapur, dan boleh disimpulkan sistem petroleum yang sama. Cadangan minyak dan gas bumi Indonesia yang semakin menurun merupakan tanggung jawab bersama, apalagi geologist merupakan kunci untuk menemukan potensi tersebut. Dengan konsep baru, data yang lebih lengkap, dan interpretasi yang lebih mendalam terhadap data yang ada, maka potensi cadangan minyak dan gas bumi di Cekungan Akimeugah dapat ditemukan. Harapan minyak dan gas bumi itu ada di Timur Indonesia, tepatnya di Cekungan Akimeugah Pulau Papua.

Referensi:

  • Satyana, A.H. (2013) : Exploring & producing Petroleum in Eastern Indonesia: Update knowledge & Recent Trends. Guest Lecture Ikatan Alumni Teknik Geofisika ITB.
  • Satyana, A.H., Damayanti, S., Armandita, C. (2012) : Tectonics, Stratigraphy, and Geochemistry of The Makassar Straits: Recent Updates from Exploring Offshore West Sulawesi, Opportunities and Risks. Proceedings Indonesian Petroleum Association 36th Annual Convention.
  • Satyana, A.H., Damayanti, S., Armandita, C. (2012) : Tectonics, Stratigraphy, and Geochemistry of The Makassar Straits: Recent Updates from Exploring Offshore West Sulawesi, Opportunities and Risks. Proceedings Indonesian Petroleum Association 36th Annual Convention.
  • Situmorang, B. (1982) : The Formation of The Makassar Basin as Determined from Subsidence Curves. Proceedings Indonesian Petroleum Association 11th Annual Convention, 83-107.
  • https://dzulfadlib.wordpress.com/tag/lapangan-minyak/
  • http://geomagz.geologi.esdm.go.id/cekungan-akimeugah-dan-sahul-harapan-baru-penemuan-migas/
 

0 komentar:

Posting Komentar