Science and Techology on Campus

We can find Science and Techology material on Campus

Science and Techology on Enterprice

We can find Science and Techology material on Enterprice

Science and Techology on Kindergarten School

We can find Science and Techology material on Kindergarten School

Science and Techology on Elemntary School

We can find Science and Techology material on Elemntary School

Science and Techology on General Society

We can find Science and Techology materiel on General Society

Senin, 01 April 2019

CEKUNGAN FORMASI SEDIMEN BONE, SULAWESI SELATAN


CEKUNGAN FORMASI SEDIMEN BONE, SULAWESI SELATAN


Pulau Sulawesi merupakan salah satu dari lima pulau terbesar di kepulauan Indonesia, memiliki bentuk khas seperti huruf “K”. Pulau Sulawesi ini yang terletak pada daerah dengan tektonik kompleks di zona pertemuan antara lempeng Eurasian, Indo-Australia dan Pasifik (Hamilton, 1979; Silver et al., 1983).

Pulau Sulawesi terbentuk dari zona tektonik yang berarah utara-selatan (Sukamto, 1975). Zona tersebut adalah dimulai dari barat ke timur yaitu Busur Volkanik Tersier Sulawesi Barat, Busur Volkanik Kuarter Minahasa-Sangihe, Jalur Metamorfik Kapur-Paleogen Sulawesi Tengah, Jalur Ofiolit Kapur Sulawesi Timur dan asosiasi sedimen pelagic penutup dan fragmen mikro benua Banda Paleozoik yang berasal dari Lempeng Benua Australia). Kontak antara provinsi tektonik ini adalah sesarsesar (Gambar 2).

Pada bagian utara pulau Sulawesi terdapat Palung Sulawesi Utara yang terbentuk oleh subduksi kerak samudera laut Sulawesi, sedangkan di bagian tenggara Sulawesi terdapat Sesar Tolo yang dipicu oleh subduksi antara lengan tenggara Pulau Sulawesi dengan bagian utara Laut Banda, dimana kedua struktur utama tersebut dihubungkan oleh sesar Palu-Koro dan Matano Dibagian barat Sulawesi terdapat selat Makassar yang memisahkan Lengan bagian barat Sulawesi dengan Busur Sunda yang merupakan bagian lempeng Eurasia yang diperkirakan terbentuk dari proses pemekaran lantai samudera pada masa Miosen, sedangkan dibagian timur terdapat fragmen-fragmen benua yang berpindah karena sesar geser dari New Guinea (Hall dan Willson 2000, dalam Armstrong, 2012).

Lokasi Cekungan Bone, Sulawesi (modifikasi dari Camplin dan Hall, 2014).

Cekungan Bone terletak di Teluk Bone (Gambar 1), dimana bagian barat dan timur di batasi oleh Lengan Sulawesi Barat dan Lengan Sulawesi Timur, bagian utara dibatasi oleh Sulawesi Tengah dan bagian selatan dibatasi oleh Laut Jawa.  Teluk Bone mencakup area seluas sekitar 30.000 kilometer persegi. Kedalaman air di Teluk Bone berkisar dari 200 sampai 3.000 meter. Cekungan Bone ini dipotong oleh beberapa sesar seperti; Sesar Palu- Koro, dan Sesar Walanae, serta diapit dua tinggian yaitu tinggian Bonerate disebelah barat dan tinggian Kabaena di sebelah timur, mengakibatkan berbagai jenis batuan bercampur sehingga posisi stratigrafinya menjadi sangat rumit.

Pada tahun 2011 Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL) mengadakan survey geologi dan geofisika di daerah perairan Teluk Bone (Gambar 1) dengan menggunakan Kapal Riset Geomarin III (Sarmili, 2011). Fokus utama makalah ini adalah untuk menafsirkan proses sedimentasi di cekungan Bone berdasarkan data seismik pantul. Perbedaan karakter reflektor dalam seismik pantul ini akan ditafsirkan sebagai acuan jenis sedimen apa saja dan serta hubungan stratigrafinya dalam proses pengendapannya.

Peta Geologi Sulawesi (Hall and Wilson, 2000)

Cekungan Bone dibagi menjadi 6,  (enam) satuan batuan menurut Yulihanto (2004) yaitu satuan batulempung A, satuan batugamping  B, satuan batuan vulkanik C, satuan batugamping D, satuan batupasir E dan satuan termuda sedimen pengisi lembah F (Channel-filled sediment).

Sekuen A disetarakan dengan Batulempung yang merupakan sekuen yang berada paling bawah dari cekungan Bone dan memiliki umur yang paling tua berdasarkan pada kenampakan dari Formasi Malawa di bagian Lengan Barat dan Formasi sedimen pelagik dan ofiolit di Lengan Timur pada kolom kesebandingan (Gambar 12), yakni berumur Eosen dengan ketebalan satuan ini mencapai 450 meter dengan kedalaman disekitar 3986 meter di bawah permukaan laut.

Sekuen B disetarakan dengan Batugamping yang diperkirakan merupakan satuan yang mewakili dari Formasi Tonasa dan Formasi Tampakura yang berumur Oligosen (Gambar 11) dengan ketebalan variasi yang mencapai 900 meter dengan kedalaman terdalam sekitar 3407 meter di bawah permukaan laut. Pada sekuen ini terlihat cekungan dengan bentuk yang memanjang dengan bagian selatan lebih luas dari pada bagian utara.

Sekuen C disetarakan dengan Batuan Vulkanik (Gambar 12) yang merupakan satuan yang mewakili Formasi Camba dan Molasa Sulawesi Formasi Langkowala (Miosen bawah hingga tengah). Pada cekungan ini terdapat beberapa ketebalan sedimen yang mencapai 200 meter dengan kedalaman sekitar 3114 meter di bawah permukaan laut.

Sekuen D yang disetarakan dengan Batugamping (Gambar 12) mewakili Formasi Tacipi dan termasuk pada Molasa Sulawesi Formasi Eemoiko yang berumur Miosen tengah. Memiliki ketebalan sedimen hingga 700 meter. dengan kedalaman sekitar 3021 meter di bawah  permukaan laut. Sekuen ini  embentuk cekungan yang memanjang dengan arah utara-selatan, dimana semakin kearah utara maka sedimen semakin dangkal dan sebaliknya semakin kearah selatan sedimen semakin dalam.

Satuan Batupasir E mewakili endapan Formasi Walanae dan Molasa Sulawesi. Satuan ini memiliki ketebalan hingga 1000 meter pada kedalaman mencapai 3278 meter di bawah permukaan laut. Pada sekuen ini terdapat pula cekungan Kuarter yang berada di bagian atas darisekuen dan terisi oleh endapan baru. Morfologi  sekuen ini memiliki bentuk lonjong memanjang dengan bagian terdalam berada pada bagian selatan dan dangkal pada bagian utara.

Stratigrafi Cekungan Bone

Sejarah Neogen Cekungan Bone
Teluk Bone memiliki sejarah pembentukan yang kompleks pada masa  Neogen, pemebentukan ini didominasi oleh proses ekstensi. Batuan dasar dari Teluk Bone bukan berasal dari lempeng samudera, tetapi dari beberapa batuan pra-Neogen. Di bagian barat tersusun oleh batuan volkanogenik, di bagian utara tersusun oleh batuan metamorf tingkat rendah dan ofiolit, dan di bagian timur tersusun oleh batuan metamorf dan ultramafik.

Cekungan mulai terbentuk pada Miosen Awal, umur satuan batuan juga menunjukkan bahwa proses ekstensi dimulai pada Miosen Tengah meskipun amblasan sudah dimulai sejak Miosen Awal. Teluk Bone dibagi menjadi beberapa sub-cekungan dan tinggian. Tinggian di Teluk Bone merupakan refleksi dari zona sesar geser yang berarah barat barat laut- timur tenggara. Arah dari sesar geser ini dipengaruhi dari struktur batuan dasar, waktu aktif dari sesar geser tersebut juga berbeda-beda. Zona sesar geser yang berasosiasi dengan Tinggian Basa telah aktif sejak awal pembentukan cekungan, sementara zona sesar geser yang berhubungan dengan Tinggian Kolaka memiliki umur yang lebih muda. Hal ini dibuktikan dengan pergerakan pada Sesar Kolaka yang ada di daratan pada Miosen Akhir hingga Pliosen.

Sesar yang membatasi sub-cekungan memiliki orientasi utara barat laut-selatan tenggara. Sesar-sesar tersebut memiliki komponen vertikal yang mencolok sehingga dapat menjadi indikasi pergeseran secara horizontal. Salah satu sesar yaitu Sesar Walanae yang terdapat di Sulawesi Selatan dan menerus hingga ke Palung Selayar. Sesar tersebut telah teridentifikasi sebagai sesar geser, hal ini disertai dengan komponen vertikal yang juga terdapat di Palung Selayar.

Sedimen yang terdapat di Teluk Bone berasal dari bagian utara, timur, danbarat cekungan. Pada batas cekungan terdapat endapan karbonat yang berumursama dengan endapan laut dalam yang terdapat di pusat cekungan.Ketidakselarasan antara Satuan D dan E dengan satuan batuan di atasnya menjaditanda saat Pulau Sulawesi mengalami pengangkatan sekaligus saat Teluk Bone mengalami amblasan. Pergerakan pada Zona Sesar Walanae dan Zona Sesar Bonerate menyebabkan inversi dan pengungkitan pada cekungan. Peristiwa-peristiwa tersebut menyebabkan sedimen silisiklastik dari utara cekungan masuk ke Teluk Bone, hal ini kemudian diikuti dengan pembentukan Ngarai Bone yang mengarah ke selatan, pembentukan paparan batuan karbonat yang menunjukkan bentuk drowning di tepi cekungan, dan back-stepping batuan karbonat.

Referensi:

  • Armstrong, F. S., 2012. Struktur Geologi Sulawesi. Institut Teknologi Bandung.
  • Bemmelen, R.W.V., 1949, The Geology of Indonesia, vol. I A, Government Printing Office, The Hague.
  • Camplin, D.J. dan Hall, R. 2013. Insight into the Structural and Stratigraphic Development of Bone Gulf, Sulawesi. Proceedings Indonesian Petroleum Association, 37th Annual Convention and Exhibition May 2013.
  • Darman H., dan Hasan F. S., 2000. An Outline of The Geology of Indonesia, Published by IAGI- 2000, h. 101-120.
  • Hamilton, W.H., 1970. Tectonic Map of Indonesia.USGS, Denver, Colorado.
  • Lili Sarmili et. al., 2016, PROSES SEDIMENTASI CEKUNGAN BONE BERDASARKAN PENAFSIRAN SEISMIK REFLEKSI DI PERAIRAN TELUK BONE SULAWESI SELATAN, JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Volume 14
  • Sudarmono, 1999. Tectonic And Stratigraphic Evolution Of The Bone Basin,Indonesia: Insights To The Sulawesi Collision Complex. 27thProceedings, IPA Oktober 1999.



CEKUNGAN FORMASI SEDIMEN GORONTALO


CEKUNGAN FORMASI SEDIMEN GORONTALO


Pulau Sulawesi disusun oleh empat lengan (arm): lengan selatan, lengan utara, lengan timur, dan lengan tenggara. Di Lengan Selatan ada kota besarnya, Makassar. Di Lengan Utara ada Manado, di Lengan Timur ada Luwuk, dan di Lengan Tenggara ada Kendari. Kundig (1956) melaporkan bagian tengah Togian disusun oleh andesit, dan timurnya oleh ofiolit (batuan asal kerak samudera dan mantel atas Bumi). Perlu diketahui bahwa Lengan Timur Sulawesi di sebelah selatan Togian disusun oleh ofiolit, sebuah massa ofiolit terbesar di Indonesia. Karena itu pula Silver dkk (1983) pernah menulis bahwa Cekungan Gorontalo adalah cekungan depan-busur (fore-arc) dengan dasarnya kerak samudera/ofiolitik. Tetapi pemetaan oleh Rusmana dkk. (1982) menemukan bahwa Kepulauan Togian hampir seluruhnya disusun oleh tuf (abu volkanik yang membatu) dan batuan-batuan sedimen berumur Miosen-Pliosen (antara 7-5 juta tahun). Di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat diyakini ada mikrokontinen pra-Tersier yang menyusup, Teluk Bone yang sangat dalam dan terbuka dengan cara Selat Makassar terbuka, juga ada Teluk Tomini/Cekungan Gorontalo yang penuh enigma, teka-teki, dan kemungkinan juga menyimpan mikrokontinen seperti di Sulawesi Barat asal Australia.

Cekungan Gorontalo terletak di Propinsi Gorontalo, Sulawesi Tengah, memanjang arah timur-barat, luas 34.320 km², pada koordinat 120º5' – 120º50' BT dan 0º27' LU - 1º24' LS. Batuan dasar cekungan berumur Kapur, dengan ketebalan sedimen antara 500 – 2.000 m pada kedalaman 2.000 m.

Lokasi Cekungan Gorontalo

Cekungan ini secara geologi termasuk dalam cekungan sutura. Cekungan  ini berada di kawasan utara Sulawesi diapit oleh lengan timur Sulawesi, disusun oleh batuan Komplek Ofiolit Sulawesi Timur dan batuan sedimen Tersier terimbrikasi dan lengan utara Sulawesi yang disusun oleh batuan gunung api Tersier - Kuarter (Lemigas, 2006).

Tipe Cekungan
Awal mula pembentukan cekungan Gorontalo akibat oleh perekahan dan rotasi searah jarum jam lengan utara Sulawesi pada Neogen pada sekitar 5 Ma (Hamilton, 1979; Walpersdorf et al. 1997, 1998) atau 3,5 Ma (Hinschberger et tidak aktifnya penunjaman ke selatan lempeng Laut Sulawesi (LLS) (Jezek et al., 1981) disebabkan oleh tumbukan antara busur lengan timur Sulawesi dengan kontinen mikro Banggai-Sula. Kemungkinan lain adalah pembukaan busur belakang relatif terhadap subduksi ke selatan dari LLS dan busur volkanik lengan Utara pada akhir Tersier.

Walpersdorf et al., 1998 dan Kadarusman, 2004, beranggapan sumbu bukaan cekungan Tomini-Gorontalo berarah timurlaut-baratdaya, sedangkan Hinschberger et al. (2005) ke arah sebaliknya yaitu baratlaut-tenggara. Bentuk cekungan itu sendiri tidak ada informasi sebelumnya apakah berupa graben, half-graben atau lainnya. Sedangkan berkaitan dengan posisi geografisnya, kemungkinan sumber sedimen dominan berasal dari arah selatan (Gambar 2.2). Cekungan Gorontalo terbentuk akibat block-faulting selama anjakan ke arah tenggara komplek ofiolit Sulawesi timur pada saat tumbukan mikro kontinen Banggai-Sula (Gambar 2.3.). Cekungan tersebut secara cepat diisi oleh endapan berumur Akhir Tersier-Kuarter sampai dengan ketebalan 5000m (Hamilton, 1979).

Sketa Pembentukan Cekungan Gorontalo

Struktur utama Cekungan Gorontalo berarah barat-timur, cekungan ini muncul dalam dua bagian berdasarkan konfigurasi kedalaman laut (bathymetric):
  1. Sebelah barat Pulau Togan (Teluk Tomini), berkisar pada kedalaman 1.000 – 2.000 m.
  2. Sebelah timur Pulau Togan, semakin dalam ke Laut Maluku melebihi 3.000 m.

Konfigurasi struktur cekungan ini secara umum mirip dengan Cekungan Bone, bagian tengah kemungkinan terisi pada Neogen Tengah – Neogen Akhir hingga saat sekarang, pada posisi cekungan volcano-magmatic arc dan cekungan non-volcanic arc. Sesar-sesar mungkin berhubungan dengan bentukan graben yang hadir di lepas pantai Poso di bagian baratdaya Teluk Tomini. Perbandingan depresi utama bagian paling dalam antara Gorontalo dan Pulau Togan adalah lebih dari 3 s (TWT) di atas akustik batuan dasar. Indikasi struktur tinggian batuan dasar hanya teramati di bagian tengah cekungan.

Rekonstruksi tektonik regional Hall (2002) menunjukkan bahwa cekungan proto-Gorontalo kemungkinan besar merupakan cekungan depan busur (fore arc basin) yang terbentuk sejak Eosen Tengah hingga Miosen Awal, dengan busur berada di lengan utara Sulawesi.

Evolusi Cekungan
Cekungan Gorontalo adalah hasil tumbukan Lempeng Mikro Australia dengan Lempeng Sunda pada Mesozoikum. Kemudian diikuti oleh regangan Sunda sebagai Lempeng Mikro Lhasa-Sikuleh yang bertumbukan dengan Eurasia. Pada periode ini, tersebar pengendapan paparan karbonat dengan beberapa intrusi yang berhubungan dengan proses volkanik Oligosen – Miosen Tengah.

Permian-Karbon (Konfigurasi Lempeng)

            Penelitian pada umur ini masih sangat sedikit, penjelasan mengenai kerangka tektonik Indonesia Timur di daerah ini hanya didukung oleh konfigurasi lempeng mikro. Data tatanan tektonik terdahulu yang sering digunakan adalah model tektonik Halmahera Tenggara sebagai Tertiary-derived terrain (Hall, 2002 dan Metcalf, 2002 dalam Jablonski dkk., 2007).

Trias-Paleosen (Pre Break-up)

            Ketebalan lempeng yang terpisah memperlihatkan konfigurasi lapisan yang rumit, diinterpretasikan sebagai sisa pemekaran terdahulu. Lapisan-lapisan ini hadir di sepanjang batas utara Cekungan Gorontalo. Pemisahan blok dimulai 205 jtl dan kemudian bertumbukan dengan Sunda pada umur Kapur, kemudian sabuk ofiolit terperangkap di antara kedua lempeng ini. Ofiolit yang tersingkap di darat telah diintrusi oleh Granit Toboli berumur 96,37 jtl (Hall, 2002 dalam Jablonski dkk., 2007).

Eosen Awal-Eosen Tengah (Break-up Phase)

            Mengikuti tumbukan Mangkalihat- Sulawesi Baratlaut dengan Sulawesi Timurlaut pada zaman Kapur, Lempeng Mikro Lhasa-Sikeuleh bertumbukan dengan Lempeng Eurasia di Burma-Sumatera bagian barat pada 51,5 jtl (Rowley, 1996 dalam Jablonski dkk., 2007). Hal ini menyebabkan terjadinya rotasi Daratan Sunda searah jarum jam dan terjadinya sejumlah bukaan tear rifts (Longley, 1997 dalam Jablonski dkk., 2007) seperti pembukaan Teluk Bone, pembukaan Teluk Tomini/Cekungan Gorontalo, subduksi Laut Sulawesi. Subduksi yang miring ke arah benua pun (kira-kira ke arah barat saat itu) terjadi berkali-kali dan menghasilkan beberapa periode magmatik dan volkanik di Sulawesi bagian barat (Satyana, 2014).

Selama periode ini, berkembang sejumlah endapan sungai - delta yang berpotensi mengandung hidrokarbon (oil prone). Cekungan Gorontalo muncul dengan dua deposenter sub-cekungan yang diperkirakan berhubungan dengan pemekaran punggung Sulawesi di daerah utara dan mungkin juga memiliki hubungan dengan Cekungan Bone di bagian selatan mendekati Zona Sesar Palu.

Eosen Akhir - Miosen Atas

            Periode signifikan bagi Sulawesi, pada kala ini terjadilah benturan, collision, docking dua mikrokontinen Australia ke arah Sulawesi dari sebelah tenggara (mikrokontinen Buton-Tukangbesi) dan dari sebelah timur (mikrokontinen Banggai-Sula). Pada periode ini diperkirakan terjadi pembalikan utama arah/polaritas busur-busur Sulawesi baik untuk busur magmatik maupun jalur subduksinya dari semula cembung ke arah samudera menjadi cekung ke arah samudera (ke arah timur pada kala ini). Pembalikan polaritas busur-busur Sulawesi ini secara frontal adalah akibat benturan mikrokontinen dI Banggai-Sula yang membenturnya di titik pusat Sulawesi, di bagian tengah, di pivot point-nya. Bentuk “K” Sulawesi diperkirakan terjadi di kala ini. Sulawesi membalik dari cembung ke timur menjadi cekung ke timur. Pembalikan busur-busur Sulawesi itu terjadi melalui perpindahan massa kerak Bumi bernama “rotasi”, Lengan Tenggara berotasi melawan arah jarum jam sehingga membuka melebarkan Teluk Bone di sebelah baratnya, Lengan Utara berotasi searah jarum jam sehingga menutup Cekungan Gorontalo (Satyana, 2014).

Skema pembentukan”K” pada Pulau Sulawesi

Miosen Atas - Resen

            Periode finalisasi pembalikan busur-busur Sulawesi dan periode tectonic escape di Sulawesi. Sebagaimana diteorikan, mengikuti benturan/collision maka akan ada post-collision tectonic escape, maka setelah benturan Buton-Tukangbesi dan benturan Banggai-Sula, terjadilah tectonic escape berupa sesar-sesar mendatar besar yang meretakkan dan menggeser-geser Sulawesi. Sesar-sesar ini mengarah ke timur umumnya, yaitu ke arah free oceanic edge saat itu sebagaimana teori tectonic escape. Sesar-sesar mendatar besar Palu-Koro, Matano, Lawanopo, Kolaka, dan Balantak terjadi melalui mekanisme post-collision tectonic escape. Tectonic escape juga dimanifestasikan dalam bentuk retakan-retakan membuka, ekstensional, di dalam area benturan Banggai-Sula atau Buton-Tukangbesi.

Model tektonik post-docking dari Sulawesi

 Stratigrafi Cekungan

 Stratigrafi Regional

Berdasarkan peta geologi lembar Tilamuta (S. Bachri, dkk, 1993) dan lembar Kotamobagu (T.Apandi, dkk, 1997) dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung, stratigrafi wilayah Cekungan ini disusun oleh formasi / satuan batuan sebagai berikut:

a. Endapan Permukaan
·         Alwium (Qal), terdiri dari : pasir, lempung, lanau, lumpur, kerikil dan kerakal yang bersifat lepas. Satuan batuan ini menempati daerah dataran rendah, terutama di daerah dataran, lembah sungai dan daerah rawa-rawa. Pelamparan dari satuan batuan ini terbatas pada daerah aliran sungai (DAS) seperti yang terdapat di sebelah barat Danau Limboto.
·         Endapan Danau (Qpl), terdiri dari : batu lempung, batu pasir, dan kerikil. Satuan batuan ini umumnya didominasi oleh batu lempung yang berwarna abu - abu kecoklatan, setempat mengandung sisa tumbuhan dan lignit, di beberapa tempat terdapat batu pasir berbutir halus hingga kasar, serta kerikil. Pada batupasir secara setempat terdapat struktur sedimen silang siur berskala kecil. Umumnya satuan batuan ini masih belum mampat dan diperkirakan berumur Pliosen hingga Holosen. Sebaran satuan batuan ini menempati lembah di sekitar Danau Limboto. Ketebalan satuan batuan ini mencapai 94 meter dan dialasi oleh batuan Diorit (Trail, 1974).

b. Satuan Batuan Sedimen dan Gunungapi
·         Formasi  Anombo (Teot), terdiri dari : lava basal, lava andesit, breksi gunung api, dengan selingan batupasir wake, batupasir hijau, batulanau, batu gamping merah, batugamping kelabu, dan sedikit batuan termalihkan. Umur dari satuan batuan ini diperkirakan Eosen hingga Miosen Awal. Satuan batuan dari formasi ini terdapat di daerah sekitar G. Tahupo (828 m) di sebelah selatan.

·         Formasi Dolokapa (fmd), terdiri dari : batupasir wake, batulanau, batulumpur, konglomerat, tuf, tuf lapili, aglomerat, breksi gunungapi dan lava bersusunan andesit sampai basal. Umur dari formasi ini diperkirakan Miosen Tengah hingga Awal. Miosen Akhir dengan lingkungan lingkungan pengendapan “inner sublitoral” dengan tebal diperkirakan lebih dari 2.000 meter. Sebaran dari satuan batuan di daerah ini menempati bagian tengah dan utara wilayah Gorontalo, yaitu di sebelah utara dari Cekungan Limboto (daerah Paleleh hingga sekitar daerah daerah Kuandang).

·         Batuan Gunungapi Bilungala (Tmbv), terdiri dari : breksi gunungapi, tuf dan lava. satuan batuan ini diperkirakan berumur Miosen Tengah hingga awal Miosen Akhir dengan tebal lebih dari 1.000 meter. Sebaran dari satuan batuan ini terdapat di bagian timur wilayah Gorontalo, di daerah Tolotio menerus ke timur.

·         Satuan Breksi Wobudu (Tpwv), terdiri dari : breksi gunungapi, aglomerat, tuf, tuf lapili, lava andesit dan lava basal. Satuan batuan ini diperkirakan berumur Pliosen Awal dengan ketebalan diperkirakan 1.000 hingga 1.500 meter. satuan batuan ini tersingkap di bagian utara wilayah Cekungan Limboto, mulai dari Pegunungan Paleleh hingga sebelah barat Teluk Kuandang.

·         Batuan Gunungapi Pinogu (TQpv), terdiri dari: perselingan aglomerat, tuf dan lava. satuan batuan ini diperkirakan berumur Pliosen Akhir hingga Pliosen Awal dengan ketebalan mencapai 250 meter, sedangkan sebarannya terdapat di sebelah selatan wilayah Cekungan Limboto dan daerah Teluk Kuandang serta di beberapa tempat yang membentuk bukit - bukit terpisah.

·         Batugamping Klastik (TQI), terdiri dari: kalkarenit, kalsirudif dan batu gamping koral. Satuan batuan ini diperkirakan berumur Pliosen Akhir hingga Pliosen Awal dengan ketebalan antara 100 hingga 200 meter, sedangkan sebaran nya terdapat di sebelah barat Danau Limboto.

·         Batugamping Terumbu (QI), terdiri dari: batu gamping koral. Umur dari satuan batuan ini diperkirakan Pliosen Akhir hingga Holosen dengan ketebalan mencapai 100 meter, sedangkan sebarannya terdapat di daerah dekat danau Limboto dan pantai selatan bagian timur.

c. Satuan Batuan Terobosan
·         Diorit Bone (Tmb), terdiri dari : diorit, diorit kuarsa, granodiorit dan adamelit. Satuan batuan ini diduga berumur Miosen Tengah hingga awal Miosen Akhir (Trail, 1974), dan terdapat di daerah sebelah timur sesar Gorontalo, juga di sebelah barat sesar disebelah utara dari Cekungan Limboto (daerah dekat Kuandang dan Paleleh).
·         Diorit Boliohuto (Tmbo), terdiri dari : diorit dan granodiorit Satuan batuan ini diperkirakan berumur Miosen Tengah hingga Miosen Akhir, dan mempunyai sebaran di daerah G. Boiiohuto.
·         Satuan Batuan Retas, terdiri dari : Andesit (Ta) dan Basal (fb). Satuan batuan ini menerobos satuan batuan dari Formasi Tinombo, Dolokapa, dan breksi Wobudu, sehingga umumya dianggap Miosen hingga Pliosen.


Referensi:
  • Jablonski, D., Priyono, P., Westlake, S., Larsen, O. A., 2007, Geology and Exploration Potential of the Gorontalo Basin, Central Indonesia-Eastern Extension of the North Makassar Basin?, Indonesian Pet. Assoc., 31st Annual Convention Proceeding.
  • Puspita, S. D., Hall, R., Elders, C. F., 2005, Structural Styles of the Offshore West Sulawesi Fold Belt, North Makassar Straits, Indonesia, Indonesian Pet. Assoc., 30th Annual Convention Proceeding.
  • Rangin, C., Silver E. A., 1990, Geological Setting of the Celebes and Sulu Seas, Proceedings of the Ocean Drilling Program, Initial Reports, Vol. 124.
  • Silver, E. A., McCffrey, R., 1993, Ophiolit Emplacement by Collision Between the Sula Platform and the Sulawesi Island Arc, Indonesia, Journal of Geophysical Research, vol. 88, No. B11.
  • http://awangsatyana.blogspot.com/2013/11/cekungan-gorontalo-teluk-tomini.html